BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar
Belakang
Sebagai calon guru yang
memiliki kesempatan dan menekuni dunia pendidikan serta sebagai salah satu
pilar penggerak dan perancang pendidikan masa depan, kita memiliki pertanyaan
besar yang dihadapkan ke kita tentang pentingnya penyelidikan terhadap sejarah
pendidikan. Bagaimanakah peran dan tinjauan tentang sejarah pendidikan ?atau
pertanyaan klasik yang krusial, bagaimanakah sistem pendidikan yang telah
dilaksanakan di masa lalu ? begitu pula
pertanyaan – pertanyaan penting tentang sejarah pendidikan seperti berikut ini
:
1.
Mengapa
guru seharusnya menyelidiki sejarah pendidikan ?
2.
Bagaimanakah pengelola pendidikan dan para
pendidik di masa lalu mendefinisikan ; kedudukan pendidikan, ilmu pengetahuan,
pendidikan, sekolah, pengajaran dan pembelajaran ?
3.
Apakah
konsep – konsep dari orang terdidik yang mendominasi selama periode sejarah
pendidikan barat?
4.
Bagaimankah
ide – ide pendidikan telah berubah melalui perjalanan waktu ?
5.
Bagaimanakah
teori – teori pendidikan dan kedudukan para pendidik di dunia barat telah
berkontribusi terhadap pendidikan modern ?
1.2. Ruang Lingkup Pembahasan
Penyajian makalah
ini memfokuskan dan membatasi pembahasan pada landasan historis pendidikan dari
sistem pendidikan di zaman purbakala/primitif
sampai pada pengaruh pendidikan barat, yang dirincikan sebagai berikut:
1. Pendidikan pada Masyarakat Primitif.
2. Pendidikan pada Zaman Yunani Kuno.
3. Pendidikan pada Zaman Romawi Kuno.
4. Pengaruh Pembelajaran Arab (Islam) terhadap Pendidikan Barat.
5. Pendidikan dan Kebudayaan pada Zaman Pertangahan.
6. Pendidikan Humanisme Klasik Zaman Renaisance
7. Pendidikan dan Reformasi Keagamaan
8. Pengaruh Pencerahan Terhadap Dunia Pendidikan Barat
9. dan berbagai
zaman yang memiliki pengaruh pada dunia pendidikan
1. 3. Tujuan Penulisan
1.
Memahami dan mengerti Pendidikan pada zaman primitive sampai dunia pendidikan barat.
2.
Memahami seperti apa Pendidikan pada zaman dahulu.
3.
Mengetahui dan mengerti Pendidikan pada zaman Pendudukan Asing.
Bab II
Pembahasan
Landasan Historis Pendidikan
Kata sejarah dari bahasa Inggris “HISTORY” yang sebenarnya kata
HISTORY itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ISTORIA yang berarti orang
pandai.Sejarah/historis adalah suatu keadaan atau kejadian pada masa lampau
dimana adanya peristiwa yang menjadi sebuah acuan untuk mengembangkan suatu
kegiatan atau kebijakan pada saat ini.Mempelajari sejarah sangatlah penting
karena dengan mempelajari sejarah manusia memperoleh banyak informasi dan
manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah kebijakan.Sejarah
adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau
kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu.Sejarah penuh dengan
informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik,
moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).
Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif dan terencana
dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi peserta didik dalam
mengembangkan potensi anak. Pendidikan juga sebagai usaha sadar yang
sistematis selalu bertolak dari sejumlah landasan.dalam hal ini landasan
histori pendidikan di indonesia akan memberikan arah atau kebijakan
terhadap pembentukan manusia di indonesia.
Seorang ahli pendidikan sebelum menangani pendidikan maka
terlebih dahulu mereka memeriksa sejarah tentang pendidikan baik
yang bersifat nasional maupun internasional (Pidharta 2009 : 110). Dengan
melihat sebuah sejarah maka mereka bisa melihat tujuan dari pendidikan tersebut
apakah sudah cocok dengan kondisi pada saat ini. Guna membantu pendidik dalam
mengenal pendidikan maka dalam makalah ini akan dibahas landasan historis
pendidikan di indonesia, Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di
Indonesia masa kini serta Berbagai problematika yang dicatat sejarah terkait
pendidikan Hal ini bertujuan agar Mengetahui landasan historis Pendidikan
Nasional Indonesia, mengetahui Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di
Indonesia masa kini serta mengetahui problematika pendidikan di Indonesia masa
kini.
Landasan historis
memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau
sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Menurut Pidharta , (2007
: 109) sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala
macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah
penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep,
teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya.Dengan demikian, setiap
bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan
dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau (Pidarta, 2007:
110). Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan.Sejarah pendidikan
merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.
Pada landasan historis pendidikan dari sistem pendidikan di zaman
purbakala/primitif sampai pada pengaruh
pendidikan barat sebagai berikut :
1.
Pendidikan pada Masyarakat Primitif.
Didalam rentang yang panjang hingga
saat ini, manusia telah mengembangkan menciptakan, melanjutkan, dan mentransfer
aspek kecakapan hidup dan budaya yang mereka miliki.Konsep budaya bertahan
hidup inilah yang telah berlangung dari zaman prasejarah hingga saat ini, yang
menjadi landasan / peletak dasar berdirinya sekolah – sekolah formal. Individu
– individu/orang yang buta huruf atau tidak terpelajar menghadapi masalah –
masalah dan tantangan – tantangan bertahan hidup (dalam artian luas) di
lingkungan mereka yang membenturkannya
dalam menghadapi kekuatan alam, binatang, dan musuh – musuh lain manusia. Untuk
bertahan hidup, sudah menjadi kodrat manusia pasti membutuhkan makanan, tempat
bernaung/pemukiman, kehangatan, dan pakaian. Agar perubahan yang cepat dari
lingkungan yang penuh tantangan didalam kehidupan yang berkelanjutan untuk
tetap bertahan hidup maka manusia mengambangkan kecakapan hidup yang menjadi
simpul – simpul dan rumusan budaya yang
dihasilkan (R.F.Butts, A Cultural History
of Western Education. New York; McGraw Hill 1955,hal. vii – x , 1 – 8 )
Agar budaya dari kelompok tertentu
tetap berlangsung dan bertahan maka budaya tersebut harus di transfer dari
kelompok tua dan dewasa kepada yang lebih muda atau anak – anak. Karena anak –
anak belajar ;bahasa, kecakapan/keterampilan, ilmu pengetahuan, dan nilai –
nilai sosial. Dapat dikatakan bahwa kegiatan mereka tersebut merupakan
perwujudan nyata dari proses pewarisan konsep dan budaya serta landasan
pendidikan.
Pola dan
rumusan awal pendidikan di zaman primitif meliputi :
1)
pembuatan
alat atau instrumen,
2)
adat istiadat dari kehidupan kelompok,
3)
pembelajaran bahasa.
Berikut ini
adalah tabel yang menunjukkan cakupan pendidikan pada periode zaman primitif.
|
Kelompok/masyarakat
sejarah dan periode
|
Tujuan
Pendidikan
|
Kurikulum
|
Agen
|
Pengaruh
Terhadap Pendidikan Barat
|
|
Masyarakat
Primitif
7.000 – 5000
sm
|
1.
Mengajarkan kecakapan hidup
kelompok
2. merekatkan ikatan
kelompok
|
1.
Latihan keterampilan berburu, memancing dan mengumpulkan makanan
2.
Ketarampilan /Kemampuan bercerita, menyanyi, berpuisi, menari dan pengajaran
mitos.
|
1.
Orang Tua
2.
Anggota Suku Tertua
3.
Pemuka Agama
|
Penekanan
pada aturan – aturan pendidikan informal dalam pemahaman nilai dan
keterampilan.
|
Dari pemaparan
tersebut diatas maka dapat diasumsikan beberapa kesimpulan tentang Landasan
Historis Pendidikan di Zaman Primitif :
Agar sistem pendidikan dan budaya
dari kelompok tertentu tetap berlangsung dan bertahan maka hal tersebut perlu
di transfer dari kelompok tua dan dewasa kepada yang lebih muda atau anak –
anak. Karena anak – anak belajar ;bahasa, kecakapan/keterampilan, ilmu
pengetahuan, dan nilai – nilai sosial. Dapat dikatakan bahwa kegiatan mereka
tersebut merupakan perwujudan nyata dari proses pewarisan konsep dan budaya
serta landasan pendidikan.
Pola dan
rumusan awal pendidikan di zaman primitif meliputi :
1)
pembuatan
alat atau instrumen,
2) adat istiadat dari kehidupan
kelompok,
3) pembelajaran bahasa.
2.
Landasan
Historis Pendidikan Zaman Romawi
Jika bangsa Yunani terfokus pada
filsafat, maka Bangsa Romawi justru sangat tertarik dengan pendidikan , politik
praktis dan kemampuan administrasi. Pendidikan ideal bagi bangsa Romawi
diberikan teladan dan contoh oleh konsep orator, yakni Isocrates.Orator Romawi
merupakan orang – orang yang terdidik yang liberal dan berpandangan luas
didalam kehidupan kemasyarakatan yang menjelma sebagai senator, pengacara,
pegawai negeri sipil, dan politisi.Cicero dan Quintilian ialah tokoh yang
sangat berpengaruh di zaman tersebut.
Cicero menghasilkan sebuah karya,
yaitu : “ de Oratore” mengkombinasikan
konsep – konsep Romawi dan Yunani terhadap konsep manusia yang terdidik (Aubrey Gwynn, 1966). Konsep Romawi
menyebutkan bahwa hasil – hasil latihan orator adalah dengan memenangkan debat dan argumen – argumen di sebuah forum.
Cicero menambahkan pandangan Yunani terhadap pendidikan retorika dengan
menekankan budaya kebebasan dan universalitas atau humanitas. Cicero merekomendasikan
bahwa setiap orator, sebagai manusia yang berfikir rasional, seharusnya dididik
dengan seni kebebasan dan seharusya
menggunakan pendidikan yang mereka perolah untuk kepentingan masyarakat umum.
Cicero juga menganjurkan pada para pendidik untuk mengajarkan unsur – unsur
kebahasaan seperti tata bahasa, puisi dan sastra.
Sedangkan Quintilian Pada tahun 94 sm berdiri lah Quintilian’s Institute Oratoria yang
memfokuskan pada teori retorika, penyelidikan tentang retorika, pendidikan
retorika, kemampuan berdeklamasi dan berbicara di depan publik. Quintilian
mengenalkan bahwa pembelajaran harus berdasarkan pada tingkat / taraf dari
perkembangan dan tahapan pertumbuhan manusia. Adapun tingkatan yang dimaksud
berdasrkan teori Quintilian ada 3 tahap yakni ;
Tahap Pertama, ditahapan ini usia potensial untuk dilakukan
pembelajaran berusia dari lahir sampai pada usia tujuh tahun. Anak diberikan
kepedulian, perhatian dan dipenuhi segala kebutuhan dasarnya. Termasuk
menggunakan jasa pelayan / pengasuh dari Yunani, sehingga dengan mendengarkan
dan memahami dari usia dini tentang cara pengucapan yang benar dan cara
bertutur yang benar pula diharapkan menghasilkan anak – anak berbakat di bidang
orator dan retorika di masa depan.
Tahap Kedua, pembelajarn
pada tahapan ini dimulai dari (7) usia tujuh tahun sampai dengan (14) empat
belas tahun. Di tahapan ini, anak – anak belajar dari pengalaman – pengalaman
yang bermanfaat, membentuk ide – ide yang jelas, dan melatih ingatan
mereka.Anak – anak mampu menuliskan bahasa yang mereka gunakan dalam bertutur.
Tahap Ketiga, pembelajaran
diusia 15 tahun sampai dengan dewasa dan matang ini, Quintilian menekankan
pembelajaran pada seni beraliran bebas serta tata bahasa Yunani dan Latin pada
tingkat sekolah menengah atas. Termasuk sastra Yunani dan Romawi,
sejarah,mitologi,musik,geometri,astronomi,dan gimnastik dipelajari juga.
Setelah mempelajari tata bahasa dan seni bebas orator yang berpotensial lalu
belajar tentang ilmu retorika, yang di aplikasikan dalam pelajaran drama,
puisi,sejarah,hukum,filsafat dan retorika.
3.
Pendidikan Pada Masyarakat Yunani Kuno
Ahli – ahli sejarah dan pendidikan
pada masyarakat barat sering melakukan tinjauan dan penelaahan terhadap
Masyarakat Yunani Kuno lalu mengambil kesimpulan bahwa budaya dan sistem
pendidikan Yunani Kuno merupakan sumber dan referensi asli / dasar dari
pembentukan budaya Barat. Penyelidikan pada budaya klasik Yunani menerangkan dengan
jelas terhadap masalah – masalah dan tantangn – tantangan yang dihadapi oleh
para pendidik dimasa kini.
Beberapa pertanyaan mendasar yang
seyogyanya dipecahkan pada pembahasan ini seperti ; 1) Apakah model – model
(pembelajaran) yang bermanfaat sehingga materi belajar dapat ditiru dan
difahami oleh anak –anak /peserta didik
? 2) Bagaimanakah (sistem) pendidikan membantu dalam membentuk tatanan
masyarakat yang baik? 3) Bagaimankah pendidikan merefleksikan perubahan sosial,
ekonomi, dan kondisi politik ? Bagaimanakah pendidikan melayani manusia dalam
mencari kebenaran ?
Butir
pembahasan pada pendidikan pada masyarakat Yunani Kuno, sebagai berikut:
a. Pendidikan
Homeric
b. Pendidikan
para Ahli Filsuf ; Guru – guru Pengembara
Socrates dan Plato ; sebagai filsuf moralitas
Aristotle ; yang berusaha merumuskan fenomena alam secara rasional/akal dan
menjelaskannya secara sistematis.
Isocrates ; Sang pendidik dan ahli retorika.
Secara detail
dijabarkan sebagai berikut :
a.
Pendidikan Epik Homeric
Para generasi pembaca telah bergairah dan bersemangat dalam suasana
tegang ketika membaca puisi – puisi epik dan heroik dari Homer, the Illiad and
Odyssey.Puisi epik karangan dan rancangan Homer ini menetapkan tujuan
pendidikan melalui cerita – cerita dan puisi heroik, sehingga melalui tokoh
heroik yang ditunjukkan dan diperkenalkan maka anak – anak sebagai peserta
didik dapat meniru dan memahami konsep – konsep kepahlawanan, sikap ksatria.
Melalui pembelajaran tentang karakter
dan sifat dari para heroik tersebut anak muda Yunani akan belajar
tentang ; 1) karakter, sifat, tingkah laku, ciri – ciri dan kualitas yang
membuat hidup menjadi berharga. 2) tingkah laku dan karakter yang diharapkan
menjadi anak muda yang ksatria. 3) kelemahan pada karakter manusia akan
membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Masyarakat Athena lebih menekankan pada nilai – nilai pengajaran
kemanusiaan, rasionalitas, dan demokrasi guna membentuk tatanan sosial dan
politik nya. Sementara itu ,Sparta sebagai musuh dan rival dari Athena , lebih
menekankan pada pendidikan militer dan melaksanakan pemerintahan nya dengan
nuansa militer yang diktator.
Bagi Yunani, budaya – penyerapan dan
partisipasi di dalam budaya – sangat penting daripada sekolah formal. Melalui
proses budaya anak muda Yunani belajar menjadi salah satu unsur masyarakat
dalam kehidupan sosial mereka. Kebanyakan di pusat – pusat kota Yunani
pendidikan formal disediakan untuk anak – anak muda pria. Di Athena contohnya
para anak putri umunya belajar tentang keterampilan dalam pengelolaan rumah
tangga dan menjadi ibu rumah tangga yang terampil. Sementara itu, berbeda
dengan yang dilakukan di Sparta, para putri muda Sparta lebih banyak
bersekolah, yang meliputi latihan – latihan atletik yang berat dan melelahkan
untuk mempersiapkan mereka menjadi ibu yang sehat bagi para prajurit masa depan
Sparta.
Ø Landasan Historis Pendidikan pada Masyarakat Yunani Kuno
Puisi epik karangan dan rancangan Homer ini menetapkan tujuan
pendidikan melalui cerita – cerita dan puisi heroik, sehingga melalui tokoh
heroik yang ditunjukkan dan diperkenalkan maka anak – anak sebagai peserta
didik dapat meniru dan memahami konsep – konsep kepahlawanan, sikap ksatria.
Melalui pembelajaran tentang karakter dan sifat dari para heroik tersebut anak muda
Yunani akan belajar tentang :
1)
karakter,
sifat, tingkah laku, ciri – ciri dan kualitas yang membuat hidup menjadi
berharga.
2)tingkah laku dan karakter yang diharapkan menjadi anak muda yang
ksatria.
3)kelemahan pada karakter manusia akan membahayakan diri sendiri
dan orang lain.
Masyarakat Athena lebih menekankan pada nilai – nilai pengajaran
kemanusiaan, rasionalitas, dan demokrasi guna membentuk tatanan sosial dan
politik nya. Sementara itu ,Sparta sebagai musuh dan rival dari Athena , lebih
menekankan pada pendidikan militer dan melaksanakan pemerintahan nya dengan
nuansa militer yang diktator.
4.
Pengaruh Pembelajaran Islamis Arab pada Pendidikan Barat
Pada abad ke 10 dan 12, Sistem
pembalajaran Arab memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan pendidikan
barat (western). Terutama sekali pada evolusi dari sistem sekolah abad
pertengahan ( dibawah pemikiran filosofis pembelajaran menengah dan tinggi).
Dari adanya persentuhan dengan pelajar – pelajar dan sarjana – sarjana dari
Arab di Utara Afrika dan Spanyol, pendidik dari Barat belajar cara dan
pemikiran baru tentang matematika, ilmu pengetahuan alam, farmasi, dan
filsafat.
Ilmu pengetahuan alam dan ilmu
pengetahuan yang lainnya dari Arab berakar dari refolusi keagamaan yang
dibangun oleh Nabi Muhammad SAW yang telah mengenalkan Agama Islam.Yang
kemudian disebarkan oleh pengikutnya melalui Afrika Utara dan Spanyol dan
wilayah – wilayah lainnya. Beberapa kontribusinya antara lain : 1) pengembangan
dalam ilmu pengetahuan matematika, 2) Penerjemahan literatur Yunani kedalam
bahasa Arab.
5.
Budaya dan Pendidikan pada
Abad Pertengahan
Tahun – tahun antara kejatuhan Roma
dan bangkitnya era Renaissance telah ditandai oleh ahli – ahli sejarah sebagai
abad pertengahan atau periode pertengahan.Era dari budaya dan pendidikan Barat
ini mulai dari akhir periode klasik dari Yunani Kuno dan Romawi dan berakhir
pada awal era modern.
Periode pertengahan pertama – tama
dicirikan dengan sebuah penolakan terhadap pembelajaran dan kemudian suatu
kebangkitan kembali dari pendidik – pendidik sistem sekolah. Dengan tidak
adanya kekuatan; kewenangan politik berpusat; tatanan kehidupan , , sosial
kemasyarakatan, dan pendidikan telah dibawa dan diarahkan pada suatu tiruan dan
penyatuan oleh gereja Katolik Latin dibawah pimpinan Paus di Roma.
Selama periode ini, tradisi
pembelajaran pada tingkat dasar diadakan oleh pendeta / jemaah gereja, koor
nyayian gereja, sekolah – sekolah biara, di bawah arahan gereja
pembantu/wilayah.Sedangkan pada tingkat menengah diadakan oleh, antara sekolah
– sekolah biara dan sekolah katedral yang menawarkan sebuah kurikulum umum.
Sekolah yang menyediakan pendidikan dasar juga sama baiknya dalam melakukan
pelatihan yang dilakukan oleh ahli
serikat gereja dan juga pedagang. Para ksatria / prajurit menerima pelatihan
mereka didalam taktik militer dan kode kesatriaan dan kesopanan di istana.Pada
periode pertengahan ini dikenal pula tokoh pendidik yakni Aquinas : Pendidikan
Sistem Skolastik
6.
Pendidikan Humanisme Klasik Era Renaissance.
Renaissance yang terjadi pada abad ke 14 masehi dan puncaknya pada
abad ke 15 menjadi saksi terhadap ketertarikan manusia terhadap aspek – aspek
ke manusiaan Yunani dan Latin. Zaman ini juga merupakan periode transisi antara
era pertangahan dan era modern. Praktisi pendidikan yang beraliran humanis
klasik Renaisance memiliki kesamaan dengan model skolastik abad pertengahan,
menemukan para pendahulu dari ahli – ahli pendidikan mereka di masa lalu dan
menekankan pada naskah – naskah klasik sebagai tolok ukur dan sumber sistem
pendidikan mereka (artinya bahwa mereka mengadopsi dan memperbaharui sistem
pendidikan dari Yunani, Latin bahkan Romawi) .Mekipun begitu, tidak seperti
para ahli skolastik, pendidik beraliran humanis lebih tertarik dengan
pengalaman – pengalaman kebumian manusia daripada pandangan bahwa Tuhan sebagai
pusat dunia satu - satunya.Ahli yang ada pada periode ini seperti Dante,
Petrarch, dan Boccaccio.
Pengaruh dari Renaisance nampak sangat di Itali yang memfokuskan
pembangunan dan pendidikan mereka pada bidang seni, sastra dan arsitektur, yang
lalu memproklamirkan bahwa mereka adalah “penjaga ilmu pengetahuan”.
Di sisi lain, pendidikan humanis klasik menantang model skolastik /
sekolahan yang lebih dahulu ada. Pihak istana yang merupakan didikan logika
skolastik tidak lagi menjadi model orang yang berpendidikan. Berikut ini salah
satu pakar pendidik di era Renaissance:
Erasmus : Sang Pelopor Reformasi yang Kritis
Dia yang lahir di Rotterdam , Belanda tahun 1465 – 1536 masehi merupakan
pelopor sistem pendidikan sekolah klasik ala
Renaissance. Kritisinya tentang pembelajaran klasikal bahasa ialah dia
menasehatkan bahwa guru seharusnya menghubungkan dengan baik antara
pembelajaran bahasa dengan arkeologi, astronomi, etimologi, sejarah, dan kitab
Injil.Alasannya ialah bahwa pada wilayah ini berkaitan dengan penyelidikan
literature klasik.
Berkenaan dengan pentingnya masa
kanak – kanak, Erasmus merekomendasikan bahwa pendidikan bagi anak – anak harus dimulai secepat dan sedini mungkin.
Orang Tua memiliki tanggung jawab sangat vital bagi pendidikan anak – anak
mereka. Anak seharusnya menerima pembelajaran denga cara – cara yang baik dan
(seperti) mendengarkan cerita – cerita yang bermanfaat terhadap perkembangan
kepribadian mereka. Erasmus yakin bahwa memahami makna dan isi lebih penting
daripada penguasaan gaya dan tata bahasa. Siswa seharusnya mengerti makna
melalui ; percakapan dari bahasa yang akan membuat pembelajaran menjadi
menarik, permainan dan adu pertunjukkan juga dianjurkan.
7.
Reformasi Keagamaan dan Pendidikan
Reformasi keagamaan pada ke 15 dan 17 berhubungan dengan kritisi
dari lembaga kaum humanis dari utara Eropa. Kebangkitan dari kelas ekonomi / srata menengah dan bersamaan
dengan kebangkitan kebangsaan nasional merupakan faktor yang juga sangat
penting. Meskipun begitu, bagaimanapun juga, para pelaku reformasi keagamaan
dalam hal ini agama Protestan seperti ; John Calvin, Martin Luther, Philip
Melanchthon, dan Ulrich Zwingli mencari kebebasan bagi dirinya sendiri dan pengikutnya
dari kekuasaan Paus dan merekonstruksi doktrin dan bentuk keagamaan yang mereka
yakini.para pereformasi ini dikenal dengan aliran humanisme klasik yang mencari
cara untuk mengembangkan lembaga dan landasan filosofis pendidikan yang akan
mendukung ketercapaian reformasi keagamaan mereka secara total.
Pereformasi Protestan ini secara signifikan membentuk / membingkai
pengembangan filosofis dan lembaga pendidikan pada masa tersebut. Banyaknya
bermunculan sekte – sekte keagamaan mampu mengembangkan toeri – teori
pendidikan mereka sendiri, mendirikan sekolah – sekolah mereka, menyusun
kurikulumnya, dan mencari jalan untuk meyakinkan anak – anak mereka terhadap
kebenaran ajaran dari reformasi keagamaan (Kristen Protestan ) yang mereka
yakini dan diajarkan kepada mereka.
Pengaruh kuat secara umum dari Reformasi Protestan terhadap
pendidikan adalah sebuah dorongan terhadap tingkatan kesustraan yang lebih luas
diantara segenap masyarakat. Kebanyakan dari pereformasi tersebut memaksakan
bahwa orang – orang yang beriman / percaya harus membacakan kItab Injil dalam bahasa ibu (daerah) mereka.
Komitmen untuk mempertahankan kepercayaan juga memiliki peranan
penting dengan menggunakan metode yang mudah diingat dan menarik dari
pembelajaran keagamaan seperti penggunaan sebuah buku yang merangkum prinsip –
prinsip keagamaan Kristen yang diinterpretasikan dengan satuan – satuan yang
beragam kedalam bentuk pertanyaan dan
jawaban yang sistematis. Metode ini diyakini bahwa sebagai suatu hasil dari
metode yang menarik dan mudah maka dalam hal menghafal / mengingat pelajaran
siswa dapat menyerap prinsip – prinsip keagamaan yang mereka yakini. Sekolah –
sekolah Vernakular (lembaga pendidikan dasar yang menawarkan kurikulum ;
membaca (reading), menulis (writing), aritmatika, dan agama) digunakan untuk
menciptakan kelas – kelas dasar dari sastra, pembelajaran bahasa yang merupakan
alat komunikasi dari komunitas tersebut.
Sekolah Vernakular (sekolah di daerah
yang mengajarkan bahasa daerah) di
Inggris, contohnya, menggunakan bahasa Inggris dalam pengajaran bahasanya, juga
bermacam – macam jenis sekolah menengah yang dipertahankan untuk mendidik kelas
yang lebih tinggi di Latin dan Yunani. Pembelajaran gimnastium di Jerman, tata
bahasa Latin di Inggris, dll.Adalah contoh perguruan tinggi yang mempersiapkan
dan melatih siswanya untuk menjadi pemimpin – pemimpin elit.
Meskipun ada banyak sekali para
pelopor reformasi Protestan dan pereformasi yang bertentangan Katolik Roma,
perhatian khusus diberikan kepada Martin Luther, Sang Pendukung Reformasi, atas
ide – idenya dalam bidang pendidikan dan reformasi keagamaan dan dalam
membentuk tatanan budaya Barat. Pada tahun 1517 Lutrher memakukan suratnya yang
terkenal “ ninety – five theses” ke
pintu benteng gereja di Wittenberg. Sejak saat itu Luther terlibat dalam
rangkaian tindakan dan gerakan untuk menentang pihak gereja Katolik Roma dan
juga Paus yang berkenaan dengan perihal kemanjaan, kewenangan Paus , dan
kebebasan untuk bersuara sesuai hati nurani.
Luther yang merupakan seorang
professor pada sebuah universitas, mengenalkan bahwa reformasi pendidikan ialah
sebuah kekuatan gabungan dari reformasi keagamaan.Pihak gereja, negara,
keluarga, dan sekolah adalah agen dari reformasi.
Keluarga merupakan agen penting
dalam membentuk karakter anak – anak dengan memahamkan nilai – nilai
kekristenan.Dia menganjurkan skala prioritas bagi orang tua untuk mengajarkan
membaca dan nilai – nilai agama pada anak – anak mereka. Setiap kelurga
keluarga seharusnya berdoa bersama – sama, membaca kitab Injil, mempelberjari
katekismus dan melatih kemampuan berwirausaha. Luther percaya dan berpendapat
bahwa pejabat publik sebagai pemangku kebijakan harus disadarkan terhadap
tanggung jawab pendidikan mereka bagi masyarakat. Surat yang berjudul “ Letter to the Mayors and Aldermen of All Cities of Germany in Behalf of
Cristian School” – surat untuk para walikota dan anggota dewan
(penyusun undang – undang) di seluruh kota di Jerman untuk kepentingan Sekolah
– sekolah Kristiani – menekankan
muatan pengajaran / muatan kurikulum nya pada ; nilai – nilai spiritual,
materi, dan manfaat – manfaat politik yang berasal dari sekolah. Sekolah yang merupakan tempat untuk
menghasilkan masyarakat yang terpalajar dan sebagai anggota gereja. Mereka akan
mempersiapkan menteri – menteri terlatih yang akan memimpin kaum mereka dalam
reformasi keagamaan kristianinya.
Pandangan Luther tentang sosial, keagamaan, dan kedudukan pendidikan
bagi perempuan secara substansial tidak berbeda dengan pandangan dari abad
pertengahan.Dia meyakini bahwa seorang suami sebagai pemimpin rumah memiliki
otoritas penuh terhadap istrinya.
Didalam penerapan reformasi
pendidikannya, Luther dibantu oleh Philip Melanchton. Keduanya menginginkan
untuk mengakhiri tindakan monopoli dari gereja
Katolik Roma melalui pendidikan dan sekolah – sekolah formal. Mereka
mengharapkan negara untuk mengawasi sekolah – sekolah dan melisensi guru.Pada
tahun 1559 m Melancthon membuat draf undang – undang dan peraturan – peraturan
sekolah Wurtemberg yang kemudian menjadi model bagi negara Jerman.Sekolah –
sekolah daerah didirikan disetiap desa untuk mengajarkan agama, membaca,
menulis, aritmatika dan musik.Pada sekolah menengah di ajarkan gimnastium dan
pada tingkat yang lebih tinggi diajarkan bahasa secara klasikal.Sementara itu
dalam hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam mereka menggunakan
sandaran pada kitab Injil.
8.
Pengaruh Pencerahan terhadap Pendidikan Barat
Para filsuf, ilmuwan, dan sarjana
dari era Pencerahan dengan jelas meyaikini bahwa adalah hal yang mungkin bagi
manusia untuk mengembangkan kehidupan mereka, lembaga – lembaga mereka, dan
keadaan mereka dengan menggunakan akal mereka dalam memecahkan segala
persoalan.Misalnya, penggunaan metode ilmiah, para ilmuwan merumuskan tentang
aturan – aturan / hukum alam.
Ahli – ahli terpelajar yang ada di
era ini seperti Diderot, Rousseau, Franklin, dan Jefferson yang komitmen
terhadap pandangan bahwa manusia sedang maju dan menyongsong kearah sebuah
dunia baru yang lebih baik. Jika manusia mengikuti alasan dan menggunakan
metoda ilmiah, hal ini akan memungkinkan untuk melanjutkan kemajuan – kemajuan
diplanet ini. Lebih khusus dalam pendidikan pada kurikulum sekolah mereka
menekankan pada individualisme, persamaan derajat/penyetaraan, tanggung jawab
kewarganegaraan, dan pemikiran intelektualitas.
Ada beberapa
zaman yang memiliki pengaruh pada dunia pendidikan yaitu :
1.
Zaman
Realisme
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan alam yang didukung oleh penemuan-penemuan
ilmiah baru, pendidikan diarahkan pada kehidupan dunia dan bersumber dari
keadaan dunia pula, berbeda dengan pendidikan-pendidikan sebelumya yang banyak
berkiblat pada dunia ide, dunia surga dan akhirat.Realisme menghendaki pikiran
yang praktis (Pidarta, 2007: 111-114).Menurut aliran ini, pengetahuan yang
benar diperoleh tidak hanya melalui penginderaan semata tetapi juga melalui
persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008: 117).
Tokoh-tokoh pendidikan zaman Realisme ini adalah Francis Bacon dan
Johann Amos Comenius. Intisari pandangan aliran Realisme tentang
pendidikan meliputi: Anak-anak harus belajar dari alam, Belajar dengan
metode induktif, Mementingkan aktifitas anak, Mengutamakan pengertian, Ekspresi
kata untuk menyatakan pengertian menjadi penting, Belajar melalui bahasa ibu,
Belajar dibantu oleh gambar-gambar, Materi dipelajari satu demi satu dari yang
mudah ke yang sukar, Pelajaran disesuaikan dengan perkembagan anak, Pendidikan
bersifat demokratis yaitu untuk semua anak.
2.
Zaman
Rasionalisme
Aliran ini memberikan kekuasaan pada manusia untuk berfikir sendiri
dan bertindak untuk dirinya, karena itu latihan sangat diperlukan
pengetahuannya sendiri dan bertindak untuk dirinya.Paham ini muncul karena
masyarakat dengan kekuatan akalnya dapat menumbangkan kekuasaan Raja Perancis
yang memiliki kekuasaan absolut.
Tokoh pendidikan pada zaman ini pada abad ke-18 adalah John
Locke.Teorinya yang terkenal adalah leon Tabularasa atau a blank sheet of
paper, yaitu mendidik seperti menulis di atas kertas putih dan dengan
kebebasan dan kekuatan akal yang dimilikinya manusia digunakan unutk membentuk
pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa manusia ini bisa mengarah
kepada hal-hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan materialisme
(ibid.: 114-115).
Proses belajar
menurut John Locke ada tiga langkah, yaitu:
Ø Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia
Ø Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
Ø Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi,
ditimbang-timbang untuk diri sendiri
3.
Zaman
Naturalisme
Sebagai reaksi terhadap aliran Rasionalisme, pada abad ke-18
muncullah aliran Naturalisme dengan tokohnya, J. J. Rousseau. Aliran ini
menentang kehidupan yang tidak wajar sebagai akibat dari Rasionalisme, seperti
korupsi, gaya hidup yang dibuat-buat dan sebagainya. Naturalisme menginginkan
keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati dan alamlah yang menjadi guru,
sehingga pendidikan dilaksanakan secara alamiah (pendidikan alam) (ibid.:
115-16). Naturalisme menyatakan bahwa manusia didorong oleh
kebutuhan-kebutuhannya, dapat menemukan jalan kebenaran di dalam dirinya
sendiri (Mudyaharjo, 2008: 118).
Menurut
Rousseau ada tiga asas mengajar, yaitu:
- Asas pertumbuhan, pengajaran harus member kesempatan untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya.
- Asas aktivitas, melalui bekerja anak-anak akan menjadi aktif, yang akan memberikan pengalaman, yang kemudian akan menjadi pengetahuan mereka.
- Asas individualitas, dengan cara menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri.
4.
Zaman
Developmentalisme
Zaman Developmentalisme berkembang pada abad ke-19. Aliran ini
memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa sehingga aliran ini
sering disebut gerakan psikologis dalam pendidikan. Tokoh-tokoh aliran ini
adalah: Pestalozzi, Johann Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel di
Jerman, dan Stanley Hall Amerika Serikat.
Intisari konsep
pendidikan yang dikembangkan oleh aliran ini meliputi:
Ø Mengaktualisasi semua potensi anakyang masih laten, membentuk watak
susila dan kepribadian yang harmonis, serta meningkatkan derajat social
manusia.
Ø Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat
perkembangan anak (Pidarta, 2007: 116-20) yang melalui observasi dan eksperimen
(Mudyahardjo, 2008: 114)
Ø Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang
disertai asuhan yang baik (nurture).
Ø Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan
pengembangan pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114)
5.
Zaman
Nasionalisme
Zaman
nasionalisme muncul pada abad ke-19 sebagai upaya membentuk patriot-patriot
bangsa dan mempertahankan bangsa dari kaum imperialis.Tokoh-tokohnya adalah La
Chatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat).
Konsep
pendidikan yang ingin diusung oleh aliran ini adalah:
Ø Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara,
Ø Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani, dan kejuruan,
Ø Materi pelajarannya meliputi: bahasa dan kesusastraan nasional,
pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara,
dan pendidikan jasmani.
Akibat negatif dari pendidikan ini adalah munculnya chaufinisme
di Jerman, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap tanah air yang
berlebih-lebihan di beberapa negara, seperti di Jerman, yang akhirnya
menimbulkan pecahnya Perang Dunia I (Pidarta, 2007: 120-21).
6.
Zaman
Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme.
Zaman ini lahir pada abad ke-19.Liberalisme berpendapat bahwa
pendidikan adalah alat untuk memperkuat kedudukan penguasa/pemerintahan yang
dipelopori dalam bidang ekonomi oleh Adam Smith dan siapa yang banyak
berpengetahuan dialah yang berkuasa yang kemudian mengarah pada
individualisme.Sedangkan positivisme percaya kebenaran yang dapat diamati oleh
panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin melemah.Tokoh aliran
positivisme adalah August Comte.
7.
Zaman
Sosialisme
Aliran sosial dalam pendidikan muncul pada abad ke-20 sebagai
reaksi terhadap dampak liberalisme, positivisme, dan
individualisme.Tokoh-tokohnya adalah Paul Natorp dan George Kerchensteiner di
Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat.
Menurut aliran ini, masyarakat memiliki arti yang lebih penting
daripada individu.Ibarat atom, individu tidak ada artinya bila tidak berwujud
benda.Oleh karena itu, pendidikan harus diabdikan untuk tujuan-tujuan social.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kita telah menguji pertanyaan – pertanyaan sesuai konteks sejarah
(pendidikan) yang berkenaan dengan pembelajaran dan pengajaran yang alamiah
yang dirumuskan pada awal makalah ini.Apakah pengetahuan?Apa yang dimaksud
dengan pendidikan? Apakah yang dimaksud dengan sekolah ?siapa yang seharusnya
hadir di sekolah? Bagaimanakah pengajaran dan pembelajaran seharusnya
ditangani?
Dengan jelas, beberapa jawaban yang diberikan oleh para pakar
pendidik dimasa lalu telah mempengaruhi kita di masa kini.Meskipun tanggapan
dari jawaban tersebut diterjemahkan dengan tidak lengkap dan bersifat ambigu.
Asal dari pendidikan Amerika yang telah ditemukan oleh pengalaman
pendidik di Eropa.Meskipun hubungan antara pendidikan pada masyarakat primitif
dan masyarakat Amerika sangatlah berbeda tipis.Sekolah, yang telah melalui abad
dari sejarah manusia, telah melibatkan tingkatan dan derajat perpindahan dari
warisan budaya dari generasi ke generasi berikutnya.Corak dan ciri ini telah
ditemukan pada pendidikan primitif dan modern.Pada Yunani kuno, konsep manusia
terpelajar/terdidik, penyelidikan dengan landasan rasionalitas, dan kebebasan
berpikir yang telah dicetuskan oleh Socrates, Plato, dan Aristotle.
Ide – ide pendidikan retorika telah dikembangkan oleh ahli – ahli
filsafat yang disarikan oleh Isocrates, Cicero dan Quintilian.
Sementara itu selama periode
abad pertengahan peletak dasar dari universitas – universitas modern
dibentuk / didirikan di Bologna dan Paris. Pendidikan pertengahan dipengaruhi
oleh suatu tingkatan matematika dan kontribusi ilmu pengetahuan yang telah
memasuki dunia Barat dari sebuah jalan dari Arab.Konsep manusia terdidik yang
liberal dikembangkan oleh ahli pendidik humanis klasik era Renaissance.Dengan
penekanan terhadap melek hurufnya dan pendidikan ala sekolah (pendidikan)
daerah/vernakular, pereformasi protestan memiliki pengaruh langsung terhadap
sekolah yang telah dibentuk di kolonial Amerika.Ide – ide pencerahan khususnya
berpengaruh di Amerika setelah perang revolusioner, tapi mereka meneruskan
untuk mempengaruhi pendidikan khususnya Amerika hingga saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Ornstein,c.Allan
and Levine, U.Daniel. An Introduction to
the Foundations of Education; third edition. Houghton Mifflin Company,
Boston, New Jersey. 1884. United Stated of America.
2.
http://riaarini17.wordpress.com/teknologi-pendidikan/landasan-historis-pendidikan/
5.
http://taherdaenglampe.blogspot.com/p/landasan-historis-dan-filosofis.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar