Rabu, 23 April 2014

makalah landasan historis pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Sebagai calon guru  yang memiliki kesempatan dan menekuni dunia pendidikan serta sebagai salah satu pilar penggerak dan perancang pendidikan masa depan, kita memiliki pertanyaan besar yang dihadapkan ke kita tentang pentingnya penyelidikan terhadap sejarah pendidikan. Bagaimanakah peran dan tinjauan tentang sejarah pendidikan ?atau pertanyaan klasik yang krusial, bagaimanakah sistem pendidikan yang telah dilaksanakan di masa lalu ?  begitu pula pertanyaan – pertanyaan penting tentang sejarah pendidikan seperti berikut ini :   
1.      Mengapa guru seharusnya menyelidiki sejarah pendidikan ?
2.       Bagaimanakah pengelola pendidikan dan para pendidik di masa lalu mendefinisikan ; kedudukan pendidikan, ilmu pengetahuan, pendidikan, sekolah, pengajaran dan pembelajaran ?
3.      Apakah konsep – konsep dari orang terdidik yang mendominasi selama periode sejarah pendidikan barat?
4.      Bagaimankah ide – ide pendidikan telah berubah melalui perjalanan waktu ?
5.      Bagaimanakah teori – teori pendidikan dan kedudukan para pendidik di dunia barat telah berkontribusi terhadap pendidikan modern ?

1.2.     Ruang Lingkup Pembahasan
            Penyajian makalah ini memfokuskan dan membatasi pembahasan pada landasan historis pendidikan dari sistem pendidikan di zaman purbakala/primitif  sampai pada pengaruh pendidikan barat, yang dirincikan sebagai berikut:

1. Pendidikan pada Masyarakat Primitif.
2. Pendidikan pada Zaman Yunani Kuno.
3. Pendidikan pada Zaman Romawi Kuno.
4. Pengaruh Pembelajaran Arab (Islam) terhadap Pendidikan Barat.
5. Pendidikan dan Kebudayaan pada Zaman Pertangahan.
6. Pendidikan Humanisme Klasik Zaman Renaisance
7. Pendidikan dan Reformasi Keagamaan
8. Pengaruh Pencerahan Terhadap Dunia Pendidikan Barat
9. dan berbagai zaman yang memiliki pengaruh pada dunia pendidikan



1. 3. Tujuan Penulisan
1.      Memahami dan mengerti Pendidikan pada zaman primitive sampai dunia pendidikan barat.
2.      Memahami seperti apa Pendidikan pada zaman dahulu.
3.      Mengetahui dan mengerti Pendidikan pada zaman Pendudukan Asing.

















Bab II
Pembahasan
Landasan Historis Pendidikan
Kata sejarah dari bahasa Inggris “HISTORY” yang sebenarnya kata HISTORY itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ISTORIA yang berarti orang pandai.Sejarah/historis adalah suatu keadaan atau kejadian pada masa lampau dimana adanya peristiwa yang menjadi sebuah acuan untuk mengembangkan suatu kegiatan atau kebijakan pada saat ini.Mempelajari sejarah sangatlah penting karena dengan mempelajari sejarah manusia memperoleh banyak informasi dan manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah kebijakan.Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu.Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).
Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif dan terencana dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi  peserta didik dalam mengembangkan  potensi anak. Pendidikan juga sebagai usaha sadar yang sistematis selalu bertolak dari sejumlah landasan.dalam hal ini landasan histori pendidikan di indonesia  akan memberikan arah atau kebijakan  terhadap pembentukan manusia di indonesia.
Seorang ahli pendidikan sebelum menangani pendidikan maka  terlebih dahulu mereka  memeriksa sejarah tentang pendidikan  baik yang bersifat nasional maupun internasional (Pidharta 2009 : 110). Dengan melihat sebuah sejarah maka mereka bisa melihat tujuan dari pendidikan tersebut apakah sudah cocok dengan kondisi pada saat ini. Guna membantu pendidik dalam mengenal pendidikan maka dalam makalah ini akan dibahas landasan historis pendidikan di indonesia, Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di Indonesia masa kini serta Berbagai problematika yang dicatat sejarah terkait pendidikan Hal ini bertujuan agar Mengetahui landasan historis Pendidikan Nasional Indonesia, mengetahui Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di Indonesia masa kini serta mengetahui problematika pendidikan di Indonesia masa kini.
            Landasan historis memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Menurut Pidharta , (2007 : 109) sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya.Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau (Pidarta, 2007: 110). Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan.Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.

Pada landasan historis  pendidikan dari sistem pendidikan di zaman purbakala/primitif  sampai pada pengaruh pendidikan barat sebagai berikut :
1.      Pendidikan pada Masyarakat Primitif.
            Didalam rentang yang panjang hingga saat ini, manusia telah mengembangkan menciptakan, melanjutkan, dan mentransfer aspek kecakapan hidup dan budaya yang mereka miliki.Konsep budaya bertahan hidup inilah yang telah berlangung dari zaman prasejarah hingga saat ini, yang menjadi landasan / peletak dasar berdirinya sekolah – sekolah formal. Individu – individu/orang yang buta huruf atau tidak terpelajar menghadapi masalah – masalah dan tantangan – tantangan bertahan hidup (dalam artian luas) di lingkungan mereka yang  membenturkannya dalam menghadapi kekuatan alam, binatang, dan musuh – musuh lain manusia. Untuk bertahan hidup, sudah menjadi kodrat manusia pasti membutuhkan makanan, tempat bernaung/pemukiman, kehangatan, dan pakaian. Agar perubahan yang cepat dari lingkungan yang penuh tantangan didalam kehidupan yang berkelanjutan untuk tetap bertahan hidup maka manusia mengambangkan kecakapan hidup yang menjadi simpul – simpul dan rumusan  budaya yang dihasilkan (R.F.Butts, A Cultural History of Western Education. New York; McGraw Hill 1955,hal. vii – x , 1 – 8 )
            Agar budaya dari kelompok tertentu tetap berlangsung dan bertahan maka budaya tersebut harus di transfer dari kelompok tua dan dewasa kepada yang lebih muda atau anak – anak. Karena anak – anak belajar ;bahasa, kecakapan/keterampilan, ilmu pengetahuan, dan nilai – nilai sosial. Dapat dikatakan bahwa kegiatan mereka tersebut merupakan perwujudan nyata dari proses pewarisan konsep dan budaya serta landasan pendidikan.
Pola dan rumusan awal pendidikan di zaman primitif meliputi :
1)      pembuatan alat atau instrumen,
2) adat istiadat dari kehidupan kelompok,
3) pembelajaran bahasa.
Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan cakupan pendidikan pada periode zaman primitif.
Kelompok/masyarakat sejarah dan periode
Tujuan Pendidikan
Kurikulum
Agen
Pengaruh Terhadap Pendidikan Barat
Masyarakat Primitif
7.000 – 5000 sm
1.   Mengajarkan      kecakapan hidup kelompok
2.    merekatkan ikatan
kelompok
1.    Latihan keterampilan berburu, memancing dan mengumpulkan makanan
2.    Ketarampilan /Kemampuan bercerita, menyanyi, berpuisi, menari dan pengajaran mitos.
1.    Orang Tua
2.    Anggota Suku Tertua
3.    Pemuka Agama
Penekanan pada aturan – aturan pendidikan informal dalam pemahaman nilai dan keterampilan.

Dari pemaparan tersebut diatas maka dapat diasumsikan beberapa kesimpulan tentang Landasan Historis Pendidikan di Zaman Primitif :
            Agar sistem pendidikan dan budaya dari kelompok tertentu tetap berlangsung dan bertahan maka hal tersebut perlu di transfer dari kelompok tua dan dewasa kepada yang lebih muda atau anak – anak. Karena anak – anak belajar ;bahasa, kecakapan/keterampilan, ilmu pengetahuan, dan nilai – nilai sosial. Dapat dikatakan bahwa kegiatan mereka tersebut merupakan perwujudan nyata dari proses pewarisan konsep dan budaya serta landasan pendidikan.
Pola dan rumusan awal pendidikan di zaman primitif meliputi :
1)      pembuatan alat atau instrumen,
2)   adat istiadat dari kehidupan kelompok,
3)   pembelajaran bahasa.
2.      Landasan Historis Pendidikan Zaman Romawi
            Jika bangsa Yunani terfokus pada filsafat, maka Bangsa Romawi justru sangat tertarik dengan pendidikan , politik praktis dan kemampuan administrasi. Pendidikan ideal bagi bangsa Romawi diberikan teladan dan contoh oleh konsep orator, yakni Isocrates.Orator Romawi merupakan orang – orang yang terdidik yang liberal dan berpandangan luas didalam kehidupan kemasyarakatan yang menjelma sebagai senator, pengacara, pegawai negeri sipil, dan politisi.Cicero dan Quintilian ialah tokoh yang sangat berpengaruh di zaman tersebut.
            Cicero menghasilkan sebuah karya, yaitu : “ de Oratore” mengkombinasikan konsep – konsep Romawi dan Yunani terhadap konsep manusia yang terdidik (Aubrey Gwynn, 1966). Konsep Romawi menyebutkan bahwa hasil – hasil latihan orator adalah dengan memenangkan  debat dan argumen – argumen di sebuah forum. Cicero menambahkan pandangan Yunani terhadap pendidikan retorika dengan menekankan budaya kebebasan dan universalitas atau humanitas. Cicero merekomendasikan bahwa setiap orator, sebagai manusia yang berfikir rasional, seharusnya dididik dengan seni kebebasan dan  seharusya menggunakan pendidikan yang mereka perolah untuk kepentingan masyarakat umum. Cicero juga menganjurkan pada para pendidik untuk mengajarkan unsur – unsur kebahasaan seperti tata bahasa, puisi dan sastra.
Sedangkan Quintilian Pada tahun 94 sm berdiri lah Quintilian’s Institute Oratoria yang memfokuskan pada teori retorika, penyelidikan tentang retorika, pendidikan retorika, kemampuan berdeklamasi dan berbicara di depan publik. Quintilian mengenalkan bahwa pembelajaran harus berdasarkan pada tingkat / taraf dari perkembangan dan tahapan pertumbuhan manusia. Adapun tingkatan yang dimaksud berdasrkan teori Quintilian ada 3 tahap yakni ;
Tahap Pertama,  ditahapan ini usia potensial untuk dilakukan pembelajaran berusia dari lahir sampai pada usia tujuh tahun. Anak diberikan kepedulian, perhatian dan dipenuhi segala kebutuhan dasarnya. Termasuk menggunakan jasa pelayan / pengasuh dari Yunani, sehingga dengan mendengarkan dan memahami dari usia dini tentang cara pengucapan yang benar dan cara bertutur yang benar pula diharapkan menghasilkan anak – anak berbakat di bidang orator dan retorika di masa depan.
Tahap Kedua, pembelajarn pada tahapan ini dimulai dari (7) usia tujuh tahun sampai dengan (14) empat belas tahun. Di tahapan ini, anak – anak belajar dari pengalaman – pengalaman yang bermanfaat, membentuk ide – ide yang jelas, dan melatih ingatan mereka.Anak – anak mampu menuliskan bahasa yang mereka gunakan dalam bertutur.
Tahap Ketiga, pembelajaran diusia 15 tahun sampai dengan dewasa dan matang ini, Quintilian menekankan pembelajaran pada seni beraliran bebas serta tata bahasa Yunani dan Latin pada tingkat sekolah menengah atas. Termasuk sastra Yunani dan Romawi, sejarah,mitologi,musik,geometri,astronomi,dan gimnastik dipelajari juga. Setelah mempelajari tata bahasa dan seni bebas orator yang berpotensial lalu belajar tentang ilmu retorika, yang di aplikasikan dalam pelajaran drama, puisi,sejarah,hukum,filsafat dan retorika.
3.      Pendidikan Pada Masyarakat Yunani Kuno
            Ahli – ahli sejarah dan pendidikan pada masyarakat barat sering melakukan tinjauan dan penelaahan terhadap Masyarakat Yunani Kuno lalu mengambil kesimpulan bahwa budaya dan sistem pendidikan Yunani Kuno merupakan sumber dan referensi asli / dasar dari pembentukan budaya Barat. Penyelidikan pada budaya klasik Yunani menerangkan dengan jelas terhadap masalah – masalah dan tantangn – tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dimasa kini.
            Beberapa pertanyaan mendasar yang seyogyanya dipecahkan pada pembahasan ini seperti ; 1) Apakah model – model (pembelajaran) yang bermanfaat sehingga materi belajar dapat ditiru dan difahami oleh  anak –anak /peserta didik ? 2) Bagaimanakah (sistem) pendidikan membantu dalam membentuk tatanan masyarakat yang baik? 3) Bagaimankah pendidikan merefleksikan perubahan sosial, ekonomi, dan kondisi politik ? Bagaimanakah pendidikan melayani manusia dalam mencari kebenaran ?
Butir pembahasan pada pendidikan pada masyarakat Yunani Kuno, sebagai berikut:
a. Pendidikan Homeric
b. Pendidikan para Ahli Filsuf ; Guru – guru Pengembara
         Socrates dan Plato ; sebagai filsuf moralitas
         Aristotle ; yang berusaha merumuskan fenomena alam secara rasional/akal dan menjelaskannya secara sistematis.
         Isocrates ; Sang pendidik dan ahli retorika.
Secara detail dijabarkan sebagai berikut :
a.    Pendidikan Epik Homeric
Para generasi pembaca telah bergairah dan bersemangat dalam suasana tegang ketika membaca puisi – puisi epik dan heroik dari Homer, the Illiad and Odyssey.Puisi epik karangan dan rancangan Homer ini menetapkan tujuan pendidikan melalui cerita – cerita dan puisi heroik, sehingga melalui tokoh heroik yang ditunjukkan dan diperkenalkan maka anak – anak sebagai peserta didik dapat meniru dan memahami konsep – konsep kepahlawanan, sikap ksatria. Melalui pembelajaran tentang karakter  dan sifat dari para heroik tersebut anak muda Yunani akan belajar tentang ; 1) karakter, sifat, tingkah laku, ciri – ciri dan kualitas yang membuat hidup menjadi berharga. 2) tingkah laku dan karakter yang diharapkan menjadi anak muda yang ksatria. 3) kelemahan pada karakter manusia akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Masyarakat Athena lebih menekankan pada nilai – nilai pengajaran kemanusiaan, rasionalitas, dan demokrasi guna membentuk tatanan sosial dan politik nya. Sementara itu ,Sparta sebagai musuh dan rival dari Athena , lebih menekankan pada pendidikan militer dan melaksanakan pemerintahan nya dengan nuansa militer yang diktator.
            Bagi Yunani, budaya – penyerapan dan partisipasi di dalam budaya – sangat penting daripada sekolah formal. Melalui proses budaya anak muda Yunani belajar menjadi salah satu unsur masyarakat dalam kehidupan sosial mereka. Kebanyakan di pusat – pusat kota Yunani pendidikan formal disediakan untuk anak – anak muda pria. Di Athena contohnya para anak putri umunya belajar tentang keterampilan dalam pengelolaan rumah tangga dan menjadi ibu rumah tangga yang terampil. Sementara itu, berbeda dengan yang dilakukan di Sparta, para putri muda Sparta lebih banyak bersekolah, yang meliputi latihan – latihan atletik yang berat dan melelahkan untuk mempersiapkan mereka menjadi ibu yang sehat bagi para prajurit masa depan Sparta.
Ø  Landasan Historis Pendidikan pada Masyarakat Yunani Kuno
Puisi epik karangan dan rancangan Homer ini menetapkan tujuan pendidikan melalui cerita – cerita dan puisi heroik, sehingga melalui tokoh heroik yang ditunjukkan dan diperkenalkan maka anak – anak sebagai peserta didik dapat meniru dan memahami konsep – konsep kepahlawanan, sikap ksatria.
Melalui pembelajaran tentang karakter  dan sifat dari para heroik tersebut anak muda Yunani akan belajar tentang :
1)      karakter, sifat, tingkah laku, ciri – ciri dan kualitas yang membuat hidup menjadi
berharga.
 2)tingkah laku dan karakter yang diharapkan menjadi anak muda yang ksatria.
       3)kelemahan pada karakter manusia akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Masyarakat Athena lebih menekankan pada nilai – nilai pengajaran kemanusiaan, rasionalitas, dan demokrasi guna membentuk tatanan sosial dan politik nya. Sementara itu ,Sparta sebagai musuh dan rival dari Athena , lebih menekankan pada pendidikan militer dan melaksanakan pemerintahan nya dengan nuansa militer yang diktator.
4.      Pengaruh Pembelajaran Islamis Arab pada Pendidikan Barat
            Pada abad ke 10 dan 12, Sistem pembalajaran Arab memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan pendidikan barat (western). Terutama sekali pada evolusi dari sistem sekolah abad pertengahan ( dibawah pemikiran filosofis pembelajaran menengah dan tinggi). Dari adanya persentuhan dengan pelajar – pelajar dan sarjana – sarjana dari Arab di Utara Afrika dan Spanyol, pendidik dari Barat belajar cara dan pemikiran baru tentang matematika, ilmu pengetahuan alam, farmasi, dan filsafat.
            Ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lainnya dari Arab berakar dari refolusi keagamaan yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW yang telah mengenalkan Agama Islam.Yang kemudian disebarkan oleh pengikutnya melalui Afrika Utara dan Spanyol dan wilayah – wilayah lainnya. Beberapa kontribusinya antara lain : 1) pengembangan dalam ilmu pengetahuan matematika, 2) Penerjemahan literatur Yunani kedalam bahasa Arab.
5.      Budaya dan Pendidikan pada  Abad Pertengahan
            Tahun – tahun antara kejatuhan Roma dan bangkitnya era Renaissance telah ditandai oleh ahli – ahli sejarah sebagai abad pertengahan atau periode pertengahan.Era dari budaya dan pendidikan Barat ini mulai dari akhir periode klasik dari Yunani Kuno dan Romawi dan berakhir pada awal era modern.
            Periode pertengahan pertama – tama dicirikan dengan sebuah penolakan terhadap pembelajaran dan kemudian suatu kebangkitan kembali dari pendidik – pendidik sistem sekolah. Dengan tidak adanya kekuatan; kewenangan politik berpusat; tatanan kehidupan , , sosial kemasyarakatan, dan pendidikan telah dibawa dan diarahkan pada suatu tiruan dan penyatuan oleh gereja Katolik Latin dibawah pimpinan Paus di Roma.
            Selama periode ini, tradisi pembelajaran pada tingkat dasar diadakan oleh pendeta / jemaah gereja, koor nyayian gereja, sekolah – sekolah biara, di bawah arahan gereja pembantu/wilayah.Sedangkan pada tingkat menengah diadakan oleh, antara sekolah – sekolah biara dan sekolah katedral yang menawarkan sebuah kurikulum umum. Sekolah yang menyediakan pendidikan dasar juga sama baiknya dalam melakukan pelatihan  yang dilakukan oleh ahli serikat gereja dan juga pedagang. Para ksatria / prajurit menerima pelatihan mereka didalam taktik militer dan kode kesatriaan dan kesopanan di istana.Pada periode pertengahan ini dikenal pula tokoh pendidik yakni Aquinas : Pendidikan Sistem Skolastik
6.      Pendidikan Humanisme Klasik Era Renaissance.
Renaissance yang terjadi pada abad ke 14 masehi dan puncaknya pada abad ke 15 menjadi saksi terhadap ketertarikan manusia terhadap aspek – aspek ke manusiaan Yunani dan Latin. Zaman ini juga merupakan periode transisi antara era pertangahan dan era modern. Praktisi pendidikan yang beraliran humanis klasik Renaisance memiliki kesamaan dengan model skolastik abad pertengahan, menemukan para pendahulu dari ahli – ahli pendidikan mereka di masa lalu dan menekankan pada naskah – naskah klasik sebagai tolok ukur dan sumber sistem pendidikan mereka (artinya bahwa mereka mengadopsi dan memperbaharui sistem pendidikan dari Yunani, Latin bahkan Romawi) .Mekipun begitu, tidak seperti para ahli skolastik, pendidik beraliran humanis lebih tertarik dengan pengalaman – pengalaman kebumian manusia daripada pandangan bahwa Tuhan sebagai pusat dunia satu - satunya.Ahli yang ada pada periode ini seperti Dante, Petrarch, dan Boccaccio.
Pengaruh dari Renaisance nampak sangat di Itali yang memfokuskan pembangunan dan pendidikan mereka pada bidang seni, sastra dan arsitektur, yang lalu memproklamirkan bahwa mereka adalah “penjaga ilmu pengetahuan”.
Di sisi lain, pendidikan humanis klasik menantang model skolastik / sekolahan yang lebih dahulu ada. Pihak istana yang merupakan didikan logika skolastik tidak lagi menjadi model orang yang berpendidikan. Berikut ini salah satu pakar pendidik di era Renaissance:
Erasmus :   Sang Pelopor Reformasi yang Kritis
Dia yang lahir di Rotterdam , Belanda tahun 1465 – 1536 masehi merupakan pelopor sistem pendidikan sekolah klasik ala  Renaissance. Kritisinya tentang pembelajaran klasikal bahasa ialah dia menasehatkan bahwa guru seharusnya menghubungkan dengan baik antara pembelajaran bahasa dengan arkeologi, astronomi, etimologi, sejarah, dan kitab Injil.Alasannya ialah bahwa pada wilayah ini berkaitan dengan penyelidikan literature klasik.
            Berkenaan dengan pentingnya masa kanak – kanak, Erasmus merekomendasikan bahwa pendidikan bagi anak – anak  harus dimulai secepat dan sedini mungkin. Orang Tua memiliki tanggung jawab sangat vital bagi pendidikan anak – anak mereka. Anak seharusnya menerima pembelajaran denga cara – cara yang baik dan (seperti) mendengarkan cerita – cerita yang bermanfaat terhadap perkembangan kepribadian mereka. Erasmus yakin bahwa memahami makna dan isi lebih penting daripada penguasaan gaya dan tata bahasa. Siswa seharusnya mengerti makna melalui ; percakapan dari bahasa yang akan membuat pembelajaran menjadi menarik, permainan dan adu pertunjukkan juga dianjurkan.
7.      Reformasi Keagamaan dan Pendidikan
Reformasi keagamaan pada ke 15 dan 17 berhubungan dengan kritisi dari lembaga kaum humanis dari utara Eropa. Kebangkitan dari  kelas ekonomi / srata menengah dan bersamaan dengan kebangkitan kebangsaan nasional merupakan faktor yang juga sangat penting. Meskipun begitu, bagaimanapun juga, para pelaku reformasi keagamaan dalam hal ini agama Protestan seperti ; John Calvin, Martin Luther, Philip Melanchthon, dan Ulrich Zwingli mencari kebebasan bagi dirinya sendiri dan pengikutnya dari kekuasaan Paus dan merekonstruksi doktrin dan bentuk keagamaan yang mereka yakini.para pereformasi ini dikenal dengan aliran humanisme klasik yang mencari cara untuk mengembangkan lembaga dan landasan filosofis pendidikan yang akan mendukung ketercapaian reformasi keagamaan mereka secara total.
Pereformasi Protestan ini secara signifikan membentuk / membingkai pengembangan filosofis dan lembaga pendidikan pada masa tersebut. Banyaknya bermunculan sekte – sekte keagamaan mampu mengembangkan toeri – teori pendidikan mereka sendiri, mendirikan sekolah – sekolah mereka, menyusun kurikulumnya, dan mencari jalan untuk meyakinkan anak – anak mereka terhadap kebenaran ajaran dari reformasi keagamaan (Kristen Protestan ) yang mereka yakini dan diajarkan kepada mereka.
Pengaruh kuat secara umum dari Reformasi Protestan terhadap pendidikan adalah sebuah dorongan terhadap tingkatan kesustraan yang lebih luas diantara segenap masyarakat. Kebanyakan dari pereformasi tersebut memaksakan bahwa orang – orang yang beriman / percaya harus membacakan  kItab Injil dalam bahasa ibu (daerah)  mereka.
Komitmen untuk mempertahankan kepercayaan juga memiliki peranan penting dengan menggunakan metode yang mudah diingat dan menarik dari pembelajaran keagamaan seperti penggunaan sebuah buku yang merangkum prinsip – prinsip keagamaan Kristen yang diinterpretasikan dengan satuan – satuan yang beragam kedalam bentuk pertanyaan  dan jawaban yang sistematis. Metode ini diyakini bahwa sebagai suatu hasil dari metode yang menarik dan mudah maka dalam hal menghafal / mengingat pelajaran siswa dapat menyerap prinsip – prinsip keagamaan yang mereka yakini. Sekolah – sekolah Vernakular (lembaga pendidikan dasar yang menawarkan kurikulum ; membaca (reading), menulis (writing), aritmatika, dan agama) digunakan untuk menciptakan kelas – kelas dasar dari sastra, pembelajaran bahasa yang merupakan alat komunikasi dari komunitas tersebut.
            Sekolah Vernakular (sekolah di daerah yang mengajarkan bahasa daerah)  di Inggris, contohnya, menggunakan bahasa Inggris dalam pengajaran bahasanya, juga bermacam – macam jenis sekolah menengah yang dipertahankan untuk mendidik kelas yang lebih tinggi di Latin dan Yunani. Pembelajaran gimnastium di Jerman, tata bahasa Latin di Inggris, dll.Adalah contoh perguruan tinggi yang mempersiapkan dan melatih siswanya untuk menjadi pemimpin – pemimpin elit.
            Meskipun ada banyak sekali para pelopor reformasi Protestan dan pereformasi yang bertentangan Katolik Roma, perhatian khusus diberikan kepada Martin Luther, Sang Pendukung Reformasi, atas ide – idenya dalam bidang pendidikan dan reformasi keagamaan dan dalam membentuk tatanan budaya Barat. Pada tahun 1517 Lutrher memakukan suratnya yang terkenal “ ninety – five theses” ke pintu benteng gereja di Wittenberg. Sejak saat itu Luther terlibat dalam rangkaian tindakan dan gerakan untuk menentang pihak gereja Katolik Roma dan juga Paus yang berkenaan dengan perihal kemanjaan, kewenangan Paus , dan kebebasan untuk bersuara sesuai hati nurani.
            Luther yang merupakan seorang professor pada sebuah universitas, mengenalkan bahwa reformasi pendidikan ialah sebuah kekuatan gabungan dari reformasi keagamaan.Pihak gereja, negara, keluarga, dan sekolah adalah agen dari reformasi.
            Keluarga merupakan agen penting dalam membentuk karakter anak – anak dengan memahamkan nilai – nilai kekristenan.Dia menganjurkan skala prioritas bagi orang tua untuk mengajarkan membaca dan nilai – nilai agama pada anak – anak mereka. Setiap kelurga keluarga seharusnya berdoa bersama – sama, membaca kitab Injil, mempelberjari katekismus dan melatih kemampuan berwirausaha. Luther percaya dan berpendapat bahwa pejabat publik sebagai pemangku kebijakan harus disadarkan terhadap tanggung jawab pendidikan mereka bagi masyarakat.  Surat yang berjudul “ Letter to the Mayors and Aldermen of All Cities of Germany in Behalf of Cristian School”    surat untuk para walikota dan anggota dewan (penyusun undang – undang) di seluruh kota di Jerman untuk kepentingan Sekolah – sekolah Kristiani –  menekankan muatan pengajaran / muatan kurikulum nya pada ; nilai – nilai spiritual, materi, dan manfaat – manfaat politik yang berasal dari  sekolah. Sekolah yang merupakan tempat untuk menghasilkan masyarakat yang terpalajar dan sebagai anggota gereja. Mereka akan mempersiapkan menteri – menteri terlatih yang akan memimpin kaum mereka dalam reformasi keagamaan kristianinya.  Pandangan Luther tentang sosial, keagamaan, dan kedudukan pendidikan bagi perempuan secara substansial tidak berbeda dengan pandangan dari abad pertengahan.Dia meyakini bahwa seorang suami sebagai pemimpin rumah memiliki otoritas penuh terhadap istrinya.
            Didalam penerapan reformasi pendidikannya, Luther dibantu oleh Philip Melanchton. Keduanya menginginkan untuk mengakhiri tindakan monopoli dari gereja  Katolik Roma melalui pendidikan dan sekolah – sekolah formal. Mereka mengharapkan negara untuk mengawasi sekolah – sekolah dan melisensi guru.Pada tahun 1559 m Melancthon membuat draf undang – undang dan peraturan – peraturan sekolah Wurtemberg yang kemudian menjadi model bagi negara Jerman.Sekolah – sekolah daerah didirikan disetiap desa untuk mengajarkan agama, membaca, menulis, aritmatika dan musik.Pada sekolah menengah di ajarkan gimnastium dan pada tingkat yang lebih tinggi diajarkan bahasa secara klasikal.Sementara itu dalam hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam mereka menggunakan sandaran pada kitab Injil.
8.      Pengaruh Pencerahan terhadap Pendidikan Barat
            Para filsuf, ilmuwan, dan sarjana dari era Pencerahan dengan jelas meyaikini bahwa adalah hal yang mungkin bagi manusia untuk mengembangkan kehidupan mereka, lembaga – lembaga mereka, dan keadaan mereka dengan menggunakan akal mereka dalam memecahkan segala persoalan.Misalnya, penggunaan metode ilmiah, para ilmuwan merumuskan tentang aturan – aturan / hukum alam.
            Ahli – ahli terpelajar yang ada di era ini seperti Diderot, Rousseau, Franklin, dan Jefferson yang komitmen terhadap pandangan bahwa manusia sedang maju dan menyongsong kearah sebuah dunia baru yang lebih baik. Jika manusia mengikuti alasan dan menggunakan metoda ilmiah, hal ini akan memungkinkan untuk melanjutkan kemajuan – kemajuan diplanet ini. Lebih khusus dalam pendidikan pada kurikulum sekolah mereka menekankan pada individualisme, persamaan derajat/penyetaraan, tanggung jawab kewarganegaraan, dan pemikiran intelektualitas.
Ada beberapa zaman yang memiliki pengaruh pada dunia pendidikan yaitu :
1.      Zaman Realisme
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan alam yang didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah baru, pendidikan diarahkan pada kehidupan dunia dan bersumber dari keadaan dunia pula, berbeda dengan pendidikan-pendidikan sebelumya yang banyak berkiblat pada dunia ide, dunia surga dan akhirat.Realisme menghendaki pikiran yang praktis (Pidarta, 2007: 111-114).Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh tidak hanya melalui penginderaan semata tetapi juga melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008: 117).
Tokoh-tokoh pendidikan zaman Realisme ini adalah Francis Bacon dan Johann Amos Comenius. Intisari pandangan aliran Realisme tentang pendidikan  meliputi: Anak-anak harus belajar dari alam, Belajar dengan metode induktif, Mementingkan aktifitas anak, Mengutamakan pengertian, Ekspresi kata untuk menyatakan pengertian menjadi penting, Belajar melalui bahasa ibu, Belajar dibantu oleh gambar-gambar, Materi dipelajari satu demi satu dari yang mudah ke yang sukar, Pelajaran disesuaikan dengan perkembagan anak, Pendidikan bersifat demokratis yaitu untuk semua anak.
2.      Zaman Rasionalisme
Aliran ini memberikan kekuasaan pada manusia untuk berfikir sendiri dan bertindak untuk dirinya, karena itu latihan sangat diperlukan pengetahuannya sendiri dan bertindak untuk dirinya.Paham ini muncul karena masyarakat dengan kekuatan akalnya dapat menumbangkan kekuasaan Raja Perancis yang memiliki kekuasaan absolut.
Tokoh pendidikan pada zaman ini pada abad ke-18 adalah John Locke.Teorinya yang terkenal adalah leon Tabularasa atau a blank sheet of paper, yaitu mendidik seperti menulis di atas kertas putih dan dengan kebebasan dan kekuatan akal yang dimilikinya manusia digunakan unutk membentuk pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa manusia ini bisa mengarah kepada hal-hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan materialisme (ibid.: 114-115).
Proses belajar menurut John Locke ada tiga langkah, yaitu:
Ø  Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia
Ø  Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
Ø  Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi, ditimbang-timbang untuk diri sendiri

3.      Zaman Naturalisme
Sebagai reaksi terhadap aliran Rasionalisme, pada abad ke-18 muncullah aliran Naturalisme dengan tokohnya, J. J. Rousseau. Aliran ini menentang kehidupan yang tidak wajar sebagai akibat dari Rasionalisme, seperti korupsi, gaya hidup yang dibuat-buat dan sebagainya. Naturalisme menginginkan keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati dan alamlah yang menjadi guru, sehingga pendidikan dilaksanakan secara alamiah (pendidikan alam) (ibid.: 115-16). Naturalisme menyatakan bahwa manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhannya, dapat menemukan jalan kebenaran di dalam dirinya sendiri (Mudyaharjo, 2008: 118).
Menurut Rousseau ada tiga asas mengajar, yaitu:
  • Asas pertumbuhan, pengajaran harus member kesempatan untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya.
  • Asas aktivitas, melalui bekerja anak-anak akan menjadi aktif, yang akan memberikan pengalaman, yang kemudian akan menjadi pengetahuan  mereka.
  • Asas individualitas, dengan cara menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri.
4.      Zaman Developmentalisme
Zaman Developmentalisme berkembang pada abad ke-19. Aliran ini memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa sehingga aliran ini sering disebut gerakan psikologis dalam pendidikan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Pestalozzi, Johann Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel di Jerman, dan Stanley Hall Amerika Serikat.
Intisari konsep pendidikan yang dikembangkan oleh aliran ini meliputi:
Ø  Mengaktualisasi semua potensi anakyang masih laten, membentuk watak susila dan kepribadian yang harmonis, serta meningkatkan derajat social manusia.
Ø  Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak (Pidarta, 2007: 116-20) yang melalui observasi dan eksperimen (Mudyahardjo, 2008: 114)
Ø  Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang disertai asuhan yang baik (nurture).
Ø  Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan pengembangan pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114)

5.      Zaman Nasionalisme
Zaman nasionalisme muncul pada abad ke-19 sebagai upaya membentuk patriot-patriot bangsa dan mempertahankan bangsa dari kaum imperialis.Tokoh-tokohnya adalah La Chatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat).
Konsep pendidikan yang ingin diusung oleh aliran ini adalah:
Ø  Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara,
Ø  Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani, dan kejuruan,
Ø  Materi pelajarannya meliputi: bahasa dan kesusastraan nasional, pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara, dan pendidikan jasmani.
Akibat negatif dari pendidikan ini adalah munculnya chaufinisme di Jerman, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap tanah air yang berlebih-lebihan di beberapa negara, seperti di Jerman, yang akhirnya menimbulkan pecahnya Perang Dunia I (Pidarta, 2007: 120-21).
6.       Zaman Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme.
Zaman ini lahir pada abad ke-19.Liberalisme berpendapat bahwa pendidikan adalah alat untuk memperkuat kedudukan penguasa/pemerintahan yang dipelopori dalam bidang ekonomi oleh Adam Smith dan siapa yang banyak berpengetahuan dialah yang berkuasa yang kemudian mengarah pada individualisme.Sedangkan positivisme percaya kebenaran yang dapat diamati oleh panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin melemah.Tokoh aliran positivisme adalah August Comte.
7.      Zaman Sosialisme
Aliran sosial dalam pendidikan muncul pada abad ke-20 sebagai reaksi terhadap dampak liberalisme, positivisme, dan individualisme.Tokoh-tokohnya adalah Paul Natorp dan George Kerchensteiner di Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat.
Menurut aliran ini, masyarakat memiliki arti yang lebih penting daripada individu.Ibarat atom, individu tidak ada artinya bila tidak berwujud benda.Oleh karena itu, pendidikan harus diabdikan untuk tujuan-tujuan social.

















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kita telah menguji pertanyaan – pertanyaan sesuai konteks sejarah (pendidikan) yang berkenaan dengan pembelajaran dan pengajaran yang alamiah yang dirumuskan pada awal makalah ini.Apakah pengetahuan?Apa yang dimaksud dengan pendidikan? Apakah yang dimaksud dengan sekolah ?siapa yang seharusnya hadir di sekolah? Bagaimanakah pengajaran dan pembelajaran seharusnya ditangani?
Dengan jelas, beberapa jawaban yang diberikan oleh para pakar pendidik dimasa lalu telah mempengaruhi kita di masa kini.Meskipun tanggapan dari jawaban tersebut diterjemahkan dengan tidak lengkap dan bersifat ambigu.
Asal dari pendidikan Amerika yang telah ditemukan oleh pengalaman pendidik di Eropa.Meskipun hubungan antara pendidikan pada masyarakat primitif dan masyarakat Amerika sangatlah berbeda tipis.Sekolah, yang telah melalui abad dari sejarah manusia, telah melibatkan tingkatan dan derajat perpindahan dari warisan budaya dari generasi ke generasi berikutnya.Corak dan ciri ini telah ditemukan pada pendidikan primitif dan modern.Pada Yunani kuno, konsep manusia terpelajar/terdidik, penyelidikan dengan landasan rasionalitas, dan kebebasan berpikir yang telah dicetuskan oleh Socrates, Plato, dan Aristotle.
Ide – ide pendidikan retorika telah dikembangkan oleh ahli – ahli filsafat yang disarikan oleh Isocrates, Cicero dan Quintilian.
Sementara itu selama periode  abad pertengahan peletak dasar dari universitas – universitas modern dibentuk / didirikan di Bologna dan Paris. Pendidikan pertengahan dipengaruhi oleh suatu tingkatan matematika dan kontribusi ilmu pengetahuan yang telah memasuki dunia Barat dari sebuah jalan dari Arab.Konsep manusia terdidik yang liberal dikembangkan oleh ahli pendidik humanis klasik era Renaissance.Dengan penekanan terhadap melek hurufnya dan pendidikan ala sekolah (pendidikan) daerah/vernakular, pereformasi protestan memiliki pengaruh langsung terhadap sekolah yang telah dibentuk di kolonial Amerika.Ide – ide pencerahan khususnya berpengaruh di Amerika setelah perang revolusioner, tapi mereka meneruskan untuk mempengaruhi pendidikan khususnya Amerika hingga saat ini.



DAFTAR PUSTAKA
1.   Ornstein,c.Allan and Levine, U.Daniel. An Introduction to the Foundations of Education; third edition. Houghton Mifflin Company, Boston, New Jersey. 1884. United Stated of America.

2.   http://riaarini17.wordpress.com/teknologi-pendidikan/landasan-historis-pendidikan/



5.   http://taherdaenglampe.blogspot.com/p/landasan-historis-dan-filosofis.html